Loading...
world-news

Tauhid rububiyah, uluhiyah, asma wa sifat - Aqidah / Tauhid Materi Pendidikan Agama Islam Kelas 10


Berikut artikel ±2000 kata, original, bahasa Indonesia, dengan pembahasan mendalam mengenai tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat.


Hakikat Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Sifat: Fondasi Keimanan dalam Islam

Tauhid merupakan inti ajaran Islam dan pondasi seluruh amal. Seluruh ajaran, syariat, perintah, maupun larangan Allah kembali kepada satu titik pusat yang sama: penetapan keesaan Allah dalam seluruh aspek ketuhanan-Nya. Para ulama telah menjelaskan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga kelompok besar: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Pembagian ini bukanlah membuat-buat unsur baru dalam agama, melainkan merupakan hasil pengamatan ilmiah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang membahas tiga sisi keesaan Allah.

Artikel ini akan membahas ketiga jenis tauhid tersebut secara mendalam, dengan menguraikan makna, dalil, bentuk penerapan, serta jenis-jenis penyimpangan yang perlu diwaspadai oleh setiap Muslim.


1. Makna Tauhid dalam Islam

Secara bahasa, tauhid berarti menjadikan sesuatu satu, atau mengesakan. Secara istilah, tauhid adalah mengesakan Allah dalam segala hal yang menjadi kekhususan-Nya sebagai Tuhan yang disembah, pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta. Tauhid adalah inti dakwah seluruh nabi, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul, (dengan menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thagut.’”
(QS. An-Nahl: 36)

Dari ayat ini terlihat bahwa tujuan dakwah seluruh rasul sama: mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah. Namun untuk memahami tauhid secara lengkap, para ulama menjelaskan tiga kategorinya agar lebih jelas dalam penerapannya.


2. Tauhid Rububiyah

2.1 Definisi Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan, pemberian rezeki, penghidupan, kematian, dan pengaturan segala urusan.

Allah berfirman:

“Allah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)

“Tiadalah sesuatu pun melainkan Allah-lah yang memilikinya.”
(QS. An-Nisa: 126)

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

2.2 Kedudukan Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah fondasi pengakuan tentang keberadaan Allah yang umumnya diakui oleh hampir seluruh manusia, bahkan bangsa-bangsa musyrik pada zaman Nabi Muhammad ﷺ. Kaum Quraisy mengakui bahwa Allah pencipta alam, sebagaimana firman-Nya:

“Dan jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”
(QS. Luqman: 25)

Meskipun mengakui rububiyah Allah, mereka tetap dikatakan musyrik karena mereka tidak menetapkan hak ibadah hanya kepada Allah, inilah alasan pentingnya memahami bahwa rububiyah belum cukup untuk menjadi seorang Muslim.

2.3 Aplikasi Tauhid Rububiyah dalam Kehidupan

  • Meyakini bahwa rezeki hanya dari Allah, sehingga tidak boleh bergantung pada makhluk.

  • Meyakini bahwa kesembuhan hanya dari Allah meskipun melalui perantara dokter atau obat.

  • Mengakui bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah ketetapan Allah.

2.4 Bentuk Penyimpangan dalam Tauhid Rububiyah

  1. Meyakini adanya pencipta selain Allah, seperti anggapan bahwa alam terjadi dengan sendirinya.

  2. Mempercayai dukun atau paranormal memiliki kekuatan gaib independen.

  3. Mengaitkan kejadian alam kepada makhluk, seperti meyakini bahwa bintang menentukan nasib.


3. Tauhid Uluhiyah

3.1 Definisi Tauhid Uluhiyah

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah. Inilah hakikat kalimat La ilaha illallah, yaitu tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.

Ini mencakup ibadah lahir dan batin, seperti:

  • doa

  • sujud

  • tawakal

  • penyembelihan

  • nazar

  • cinta dan takut yang bersifat ibadah

Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia.”
(QS. Al-Baqarah: 163)

3.2 Mengapa Tauhid Uluhiyah adalah Inti Dakwah para Nabi

Walaupun banyak kaum mengakui rububiyah Allah, mereka tetap syirik dalam uluhiyah. Karena itu, para nabi memfokuskan dakwah pada pemurnian ibadah kepada Allah.

Contohnya:

  • Kaum Nabi Nuh menyembah berhala Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

  • Kaum Nabi Ibrahim menyembah bintang, matahari, dan berhala.

  • Kaum Quraisy menyembah Allah, tetapi juga berdoa kepada Latta, Uzza, dan Manat.

Tauhid uluhiyah adalah perlawanan langsung terhadap kesyirikan, sehingga menjadi penentu apakah seseorang Muslim atau tidak.

3.3 Aplikasi Tauhid Uluhiyah dalam Kehidupan

  • Berdoa hanya kepada Allah, bukan kepada kuburan wali atau makhluk gaib.

  • Ketika meminta pertolongan, meminta hanya kepada Allah atau makhluk yang mampu secara fisik tanpa aspek gaib.

  • Menjadikan cinta dan takut kepada Allah lebih tinggi dari apa pun.

3.4 Bentuk Penyimpangan dalam Tauhid Uluhiyah

  1. Syirik besar, seperti berdoa kepada selain Allah, memohon perlindungan kepada makhluk gaib, meminta rezeki kepada arwah.

  2. Syirik kecil, seperti riya’ (beribadah karena ingin dipuji).

  3. Memalingkan ibadah tertentu kepada makhluk, seperti menyembelih hewan untuk jin.

  4. Menggantungkan jimat dengan keyakinan bahwa jimat memberi kekuatan.


4. Tauhid Asma’ wa Sifat

4.1 Definisi Tauhid Asma’ wa Sifat

Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yaitu:

  • menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya,

  • menafikan apa yang Allah nafikan dari diri-Nya,

  • tanpa tahrif (mengubah makna),

  • tanpa ta’til (meniadakan),

  • tanpa takyif (menanyakan “bagaimana”), dan

  • tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini mengandung dua prinsip:

  • penafian keserupaan,

  • penetapan sifat mendengar dan melihat.

4.2 Contoh Sifat Allah yang Harus Ditetapkan

  • Maha Hidup (Al-Hayy)

  • Maha Berdiri Sendiri (Al-Qayyum)

  • Maha Mengetahui (Al-‘Alim)

  • Maha Mendengar (As-Sami’)

  • Maha Melihat (Al-Bashir)

  • Memiliki wajah, tangan, dan istiwa’ di atas Arsy, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Namun penetapannya harus sesuai metode salaf:

  • mengimani tanpa menyerupakan,

  • mengimani tanpa menolak makna,

  • tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.

4.3 Aplikasi Tauhid Asma’ wa Sifat dalam Kehidupan

  • Menyadari bahwa Allah Maha Mendengar → mendorong menjaga lisan.

  • Meyakini bahwa Allah Maha Melihat → mencegah melakukan maksiat secara sembunyi.

  • Mengetahui Allah Maha Penyayang → menumbuhkan optimisme dan tidak putus asa.

  • Meyakini Allah Maha Kuat → menumbuhkan rasa aman dan tawakal.

4.4 Penyimpangan dalam Asma’ wa Sifat

  1. Tahrif
    Mengubah makna, seperti menafsirkan “istiwa’” sebagai “menguasai”.

  2. Ta’til
    Meniadakan sifat Allah, seperti menolak bahwa Allah memiliki tangan.

  3. Tamtsil
    Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

  4. Takyif
    Mencoba mendefinisikan bagaimana bentuk sifat Allah.


5. Hubungan antara Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Sifat

Ketiga jenis tauhid ini saling melengkapi:

5.1 Rububiyah → Uluhiyah

Jika seseorang yakin Allah satu-satunya Pencipta, seharusnya ia menyembah hanya kepada Allah.

5.2 Uluhiyah → Asma’ wa Sifat

Untuk menyembah Allah dengan benar, seseorang harus mengenal nama dan sifat Allah.

5.3 Asma’ wa Sifat → Rububiyah

Dengan mengenal sifat Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, seseorang memperkuat keyakinan rububiyah.

Kesimpulannya:
Ketiga tauhid ini adalah satu kesatuan; memisahkan atau meninggalkan salah satunya dianggap cacat dalam tauhid.


6. Tauhid sebagai Penggerak Kehidupan Muslim

Pemahaman tauhid bukan sekadar teori, tetapi memengaruhi seluruh aspek kehidupan seorang Muslim:

6.1 Dalam Ibadah

Dengan tauhid, ibadah menjadi murni, bebas dari syirik dan riya’.

6.2 Dalam Akhlak

Orang yang yakin Allah melihatnya akan jujur dan amanah.

6.3 Dalam Kehidupan Sosial

Tauhid meniadakan rasa takut berlebihan kepada selain Allah—manusia, harta, jabatan.

6.4 Dalam Menghadapi Ujian

Meyakini rububiyah dan sifat Allah membuat seseorang tabah, yakin bahwa ujian adalah takdir terbaik.

6.5 Dalam Dakwah

Memurnikan tauhid adalah inti dakwah dan pondasi pembinaan umat.


7. Penutup

Tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa sifat merupakan fondasi utama dalam memahami Allah dan berinteraksi dengan syariat-Nya. Tanpa memahami ketiganya, seorang Muslim sulit mencapai kesempurnaan iman dan keikhlasan dalam ibadah. Tauhid rububiyah mengajarkan bahwa hanya Allah yang mencipta dan mengatur; tauhid uluhiyah memurnikan ibadah hanya kepada Allah; dan tauhid asma’ wa sifat menguatkan pengenalan terhadap Allah dengan cara yang benar.

Semoga pembahasan ini membantu memperkokoh pemahaman tauhid dan menjadi bekal dalam memperbaiki ibadah serta kehidupan sehari-hari.